curahanhaticahnggalek.blogspot.com CURAHAN HATIKU: 2009
KISAH NYATA PARA PENULIS
RSS

Jumat, 25 Desember 2009

catatan Arum Pratika " kepada kamu dengan penuh kebencian " 25 April 2009 jam 17:37

Aku benci jatuh cinta. Aku benci merasa senang bertemu lagi dengan kamu, tersenyum malu-malu, dan menebak-nebak, selalu menebak-nebak. Aku benci deg-degan menunggu kamu online. Dan di saat kamu muncul, aku akan tiduran tengkurap, bantal di bawah dagu, lalu berpikir, tersenyum, dan berusaha mencari kalimat-kalimat lucu agar kamu, di seberang sana, bisa tertawa. Karena, kata orang, cara mudah membuat orang suka denganmu adalah dengan membuatnya tertawa. Mudah-mudahan itu benar.

Aku benci terkejut melihat SMS kamu nongol di inbox-ku dan aku benci kenapa aku harus memakan waktu begitu lama untuk membalasnya, menghapusnya, memikirkan kata demi kata. Aku benci ketika jatuh cinta, semua detail yang aku ucapkan, katakan, kirimkan, tuliskan ke kamu menjadi penting, seolah-olah harus tanpa cacat, atau aku bisa jadi kehilangan kamu. Aku benci harus berada dalam posisi seperti itu. Tapi, aku tidak bisa menawar, ya?

Aku benci harus menerjemahkan isyarat-isyarat kamu itu. Apakah pertanyaan kamu itu sekadar pancingan atau retorika atau pertanyaan biasa yang aku salah artikan dengan penuh percaya diri? Apakah kepalamu yang kamu senderkan di bahuku kemarin hanya gesture biasa, atau ada maksud lain, atau aku yang-sekali lagi-salah mengartikan dengan penuh percaya diri?

Aku benci harus memikirkan kamu sebelum tidur dan merasakan sesuatu yang bergerak dari dalam dada, menjalar ke sekujur tubuh, dan aku merasa pasrah, gelisah. Aku benci untuk berpikir aku bisa begini terus semalaman, tanpa harus tidur. Cukup begini saja.

Aku benci ketika kamu menempelkan kepalamu ke sisi kepalaku, saat kamu mencoba untuk melihat sesuatu di handycam yang sedang aku pegang. Oh, aku benci kenapa ketika kepala kita bersentuhan, aku tidak bernapas, aku merasa canggung, aku ingin berlari jauh. Aku benci aku harus sadar atas semua kecanggungan itu…, tapi tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku benci ketika logika aku bersuara dan mengingatkan, “Hey! Ini hanya ketertarikan fisik semata, pada akhirnya kamu akan tahu, kalian berdua tidak punya anything in common,” harus dimentahkan oleh hati yang berkata, “Jangan hiraukan logikamu.”

Aku benci harus mencari-cari kesalahan kecil yang ada di dalam diri kamu. Kesalahan yang secara desperate aku cari dengan paksa karena aku benci untuk tahu bahwa kamu bisa saja sempurna, kamu bisa saja tanpa cela, dan aku, bisa saja benar-benar jatuh hati kepadamu.

Aku benci jatuh cinta, terutama kepada kamu. Demi Tuhan, aku benci jatuh cinta kepada kamu. Karena, di dalam perasaan menggebu-gebu ini; di balik semua rasa kangen, takut, canggung, yang bergumul di dalam dan meletup pelan-pelan…

aku takut sendirian.



*Tulisan ini terdapat dalam buku Kepada Cinta (Gagasmedia, 2009)

Rabu, 23 Desember 2009

Catatan arifin jibek



knp baru saat ini aku menyadari btp berharganya sswtu, ktk sswtu itu telah pergi menjauh dari aku.
. sswtu yang dlu tak pernah aku aku mengerti untuk apa sswtu itu ada.
sswt yang kadang di puji tapi kadang pula di maki
. oh tuhan.....
tolong bantu aku menemukan sswtu yang telah hilang itu ,,
krn hany dgn itu aku akan bahagia menjalani hidup ku.,,,

Catatan De Meleagant (De Enough)




Bidadari untuk dia

Langit malam yang terang karena adanya bintang dan bulan. Melihat mereka berdua bersama serasa gelapnya malam tiada arti.

Tanah yang subur karena adanya tumbuhan yang selalu setia menemaninya walau terpaah hujan, ganasnya cuaca. Melihat mereka serasa akrab memayungi dan mengasihi.

Seorang manusia hidup didunia dengan melakukan kegiatan dengan kesendirian yang hebat, memimpikan seseorang pendamping hidupnya. Tiap kali dia lelah, sering kali mimpi itu menghantui tidurnya. Akankah semua itu benar nyata adanya. Hari esok yang panas, terik matahari menyeruak alam bawah sadarnya. apakah ini bertandabahwa harapan hidupnya sudah sampai disini. Oh Tuhan, apakah dia masih diberi dan memiliki kesabaran.

Ketika suatu malam, dia termenung melihati di langit-langit yang tak kunjung terang, dia iri pada bulan dan bintang yang pada saat itu bermesraan di ambang angkasa yg kelam. mereka memadu kasih layak sebuah pasangan yg akan dia tunggu. Rasa sedih tak terbendung, air matanya bercucuran layaknya semangat yang pupus. Beberapa menit dia mengusap air matanya yang berlinang, dan sekali lagi perbuatan itu dilakukannya. Daun serta rerumputan berlambai pelan-pelan, searah haluan angin berhembus dari utara.Belaian yang halus nan lembut mengantarkannya pada ilusi yang terus menghantuinya, memaksanya untuk meng-iyakan.

Hari sungguh menjenuhkan, setiap hari hal itu saja yang dilakukan. Pekerjaan membosankan menghentikan geraknya selangkah maju. Mandor yang keras, rekan yang sombong, publik terlalu menekannya sehingga dirinya muak. Waktu sore hari, gerak tersenggal-senggal, wajah pucat pasi berkeringat dengan baju sedikit lusuh menandakan kerasnya dunia, tangan tergontai, pandangan mata berkurang terjatuhlah dia di tepi jalan 100 meter dari rumahnya. Nafas terengah-engah menghembus keras menabur debu jalanan. seuntai kata terucap,..

.."maafkan aq wahai biduanku, hidupku cuku..p sam..pai di..sin...i", sambil menggenggam erat tangan serta menandakan keputusasaan.

Menangislah dia...

Dunia ironis, Tuhan yang egois,apakah benar semua itu tercuat dan layak kita sebutkan...

waktu malam tiba, dia tak kunjung terbangun dari tidurnya. Suasana sepi, angin dingin berhembus dari utara, rumput serta dedaunan bergoyang dengan cerianya, seruan serangga terus bersinambungan.

Namun...

kini sang bulan menerangi alam tanpa sebuah bintang di sampingnya, menandakan seolah-olah berkata

"bangunlah kawanku, bangunlah..., seseorang menunggumu beberapa langkah dari kesendirianmu".
"susah payah aku menurunkannya untukmu, aq teringat akan kesendirianmu kini".
"maafkan aku bila selama ini egois disaat sobatku sendiri".
"bangunlah..."
"jangan kau sia-siakan perberianku yang sangat berharga ini".

Seuntai cahaya turun dengan kencangnya berangsur pelan-pelan hingga berlandas ke dataran bumi. Detakan langkah seiring dengan irama jantung, cahaya tersebut berubah wujudnya hingga menjadi seseorang wanita belia nan cantik mempesona tercurahkan di sekujur tubuhnya. Aura yang sangat hangat menyelimuti rerumputan, pepohonan, hewan, langit senantiasa menyapanya dengan tulus, tunduk melunglai.

Wanita itu kemudian menghampiri dengan keadaan setengah melayang,lalu menjulurkan sebuah tangan yang halus berkilau seperti layaknya berlian, menengadah mengusap dagu lelaki yang malang itu. hangat berpadu dengan dinginnya kulit kedua orang itu.

Wanita itu terlihat murung sambil menengadahkan wajahnya ke sang bulan, dengan perasaan sedih, tak lama kemudian berlinanglah air mata suci dari kedua bola matanya yang menawan. Alam seraya sedih, dengan hati yang kalut di susul dengan sang bulan.

sang bulan berkata,"kita terlambat, bidadariku. Seharusnya kita lebih awal, namun..."

Lelaki itu telah tiada sebelum cahaya kasih menyertainya

dengan tersendudu, si bidadari tersebut menangis, memeluk erat-erat lelaki malang itu dengan kehangatan kasihnya yang diridloi olehNya. berjam-jam berlalu, si bidadari itu tetap memeluknya dan sekali dia berucap,..

"kenapa Tuhan engkau berlaku seperti ini, padahal aku mencintainya atas rahmatMu."
"berikanlah aku kesempatan untuk menemaninya walau sekali."
"tolonglah..."

Tak lama kemudian..

melihat kondisi lelaki itu, bidadari itu berucap,..
"sayang..."
"sayangku...", sambil mengusap wajah lelaki yang dingin
...

"aku akan terus mencintaimu, walau ragamu telah tiada."
"Tuhan berkehendak lain"
" maafkan aku sayangku, engkau selalu sendiri tanpaku."
...
"maafkan...
"a.k..u...".

Pupus sudah harapannya...

*****


by dean ^^ T.T
Di dalam catatan ini : Evi Jieh, Dunia Kegelapan, Dwie Emang Mulya, Echa Meila-chAn, Elfi Adjah, Arif Joena, Cewex Milanisti (catatan), ArIfin JiBek (catatan | remove tag), Lufti Sheva Saiyuki, Anisa Veetra, Anisa Veetry, Christanti Natalia, Monica 'Qian' Pratistha